In Memoriam Dr. Fransiskus Borgias: Penulis Produktif, Pemikir yang Kontekstual
Oleh Kanisius Teobaldus Deki
Pada suatu waktu di tahun 2013 saya mendapatkan messenger baru di handphone blacberry. Isinya permintaan untuk membantu menemukan beberapa literatur terkait budaya Manggarai. Secara khusus saya diminta untuk mengumpulkan koleksi karya P. Jillis Verheijen SVD, seorang misionaris dan antropolog asal Belanda yang sangat besar perhatiannya terhadap khazanah budaya Manggarai.[1] Literatur dimaksud akan dipakai untuk disertasinya. Saya mencatat namanya: Frans Borgias di nomor kontak saya.
Pagi ini saya sementara tertidur ketika handphone
berdering. Ada panggilan masuk. Suara di seberang terisak dalam tangisan. “Kaka
Frans sudah tiada”, suaranya terbata-bata. Sontak ada perasaan sedih. Hari Rabu
lalu, tanggal 24 Desember 2025, saya mengirim pesan di Whatsapp, namun tak
dibalas. Waktu itu saya mengetahui kalau Pak Frans sedang dirawat di rumah
sakit. Rupanya sakit yang dideritanya tak jua berakhir. Sampai ia menghembuskan
nafas terakhir hari ini.
Tulisan ini lebih merupakan serpihan-serpihan kenangan
bersama kami. Ingatan akan keseharian dalam kebiasaan selalu berkontak untuk
bercerita tentang situasi aktual gereja atau sekedar bertutur tentang lelucon
masa lampau yang tetap membekas. Sebuah persembahan penghormatan untuk segala
karya dan persahabatan kami.
Penulis yang Produktif: 247 karya!
Sebenarnya nama ini sudah lama akrab di telinga. Saya menjumpainya
melalui karya tulisnya yang tersebar di begitu banyak media, termasuk publikasi
bukunya yang terbilang banyak. Ia penulis yang sangat produktif. Ia menulis
artikel, cerita pendek dan puisi, buku hingga menerjemahkan karya-karya dari
penulis besar. Ia tak hanya menulis buku tunggal, tetapi juga editor untuk
berbagai buku dan termasuk reviewer untuk beberapa jurnal ilmiah di
tanah air.
Tulisannya banyak mucul di beberapa jurnal ilmiah, baik
dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Temanya beragam, dari sastra,
teologi kontekstual, filsafat, politik, budaya hingga kitab suci. Ia meramu
tulisannya dengan ungkapan yang sederhana, konsep berpikir yang disiplin dan
rumusan yang mudah dipahami. Google Scholar memberi kita banyak
informasi tentang jumlah publikasinya, baik artikel maupun buku. Jika kita
skrol kursor, kita akan menjumpai 247 karyanya yang mengagumkan.
Beberapa buku karya Frans Borgias pada bidang kitab suci
antara lain: Sejarah Alkitab (terj. Karya Karen Amstrong, 2013), Saat-saat
Terakhir Hidup Yesus Menurut Yohanes (FideiPress, 2013), Gambar Tanpa Wajah
(Obor, 2024), Menilik Kohesitas 12 Nabi-Nabi Kecil (Wacana Biblika, 2023),
Orang Samaria Yang Baik Hati-Teladan Berjejaring (Komunikasi, 2023), Sastra
Hikmat Kebijaksanaan Israel: Relevansi teologisnya dari perspektif kristiani
(Wacana Biblika, 2022), Tafsir Kitab Suci (Mingguan Hidup, ), Injil Lukas
Penuntun Studi (1996), Pengalaman Akan Allah (1996), Spiritualitas Iman Ayub
(2005) dan masih banyak yang bisa dideretkan.
Pada bidang teologi kontekstual, liturgi dan budaya
Manggarai tercatat karyanya antara lain: Teologi Pembebasan Amerika Latin
(Busos, 1986), Altar Compang (Fajar Liturgi, 1990), Jalan Salib Jalan
Keadilan-Leonardo Boff (Kanisius, 1991), Merenungkan Kontinuitas Historis
Kekristenan (Melintas, 1994), Menelusuri Khazanah Feminisme Dalam Persepktif
Katolik (Melintas, 1994), And God Saw That It Was Good: Positive View of
Indigenous-Primal Wisdom (Melintas, 2004), Terobosan Baru
Berteologi-Butir-butir Refleksi Pastor Yan Sunyata OSC (Lamalera, 2009), masih
bisa ditambahkan lagi karya di bidang ini.
Bidang sastra dan filsafat memunculkan beberapa judul
berikut: Kidung Sang Surya dan Nilai Ciptaan (Rohani, 1987), Menelusuri Mistik
Musyawarah Burung (Basis, 1987), Ajaran Sosial Gereja: Perubahan Dalam
Pendekatan Sosial (Busos, 1990), Filsafat Kahlil Gibran Upaya Memaknai dan
Mamahami Sang Nabi (Intrashing Publishing, 2022), Filsafat Sosial dan Filsafat
Pendidikan Manggarai. Belajar dari ‘Socrates’ Golo Momol P. Florian Laot, OFM
(Obor, 2012), Manggaraian Idea of ‘Moral Self’: Study of Manggaraian
Traditional Texts (Melintas, 2020), Dante Aleghieri: Cinta, Ziarah, Teologi
Tubuh, Persatuan Cinta Misyikal (Hidup, 2025), Cerpen Kuabadi Dalam Nuranimu
(Komunikasi, 2024), Sastra Hikmat Kebijaksanaan Israel: Relevansi Teologisnya
dari Perspektif Kristiani (Wacana Biblika, 2022), Filsafat Katolik (Komunikasi,
2019), Puisi-Puisi Frans Borgias: Stigmata (2011), serta begitu banyak karya
yang patut diinput.
Bidang budaya Manggarai tercatat beberapa karya: Nama Orang
Manggarai 1-2 (Basis, 1991), Memahami Manusia Manggarai Lewat Mitos dan
Antropologi (Kearifan Lokal, 2019), Ikut berkontribusi dalam menyusun 10 jilid
Ensiklopedia Manggarai (Institute Manggarai, 2025), Manggaraian Myths, Rituals
and Christianity: Doing Contextual Theology in Eastern Indonesia (UGM, 2016), Asal
Usul Manusia Manggarai (Kreba Dia, 2024), serta masih banyak karya yang wajib
dimasukkan.
Selain karya publikasi bidang-bidang yang telah disebutkan
di atas, Pak Frans juga menaruh perhatian pada tokoh gereja dari kelompok
fransiskan, paus, para uskup dan para imam atau kaum religius yang berjalasa: Juragan
Visioner, Prof Dr N.J.C. Geise OFM (Kanisius, 2006), Catatan Harian Seorang
Pastor Desa: Dialog Imajiner Dengan P. Flori Laot, OFM (2013), Sr. Virgula
Scgmitt SSpS: Sebuah Ziarah Pembebasan (2016), Tantangan Modern Fransiskan
(2017), Mengenang Pater Servulus Isaak SVD Lewat Upaya Mendalami dan Memahami
Motto Tahbisannya (Unika St. Paulus, 2021), Paus Yohanes Paulus II: Antara
Peluru dan Saudari Maut (Sinar Harapan, 2005), Devosi Santo Antonius dan
Renungan Masa Kini (Pustaka Nusatama, 2005), Krisis Hidup Santo Fransiskus
Asisi (2005), Makna Teologis-Soteriologis Motto Episkopalis Yang Mulia Uskup
Maksimus Regus (2024), Pengenalan Akan Mgr. Hilarion Datus Lega. Dari Teologi
Bola Kaki ke Teologi Mengenal Nama (2024) dan masih banyak karya yang dapat
ditambahkan.
Pak Frans menaruh perhatian juga pada pembacaan atas
karya-karya yang penting dan membuat resensi buku. Tentu ini merupakan
kebajikan seorang penulis yang tak boleh diabaikan. Membuat resensi buku
merupakan sebuah cara memberikan apresiasi atas karya dari para pemikir dan
penulis dalam bidang keahliannya.
Kecintaannya terhadap dunia tulis menulis, membawa dirinya
kepada penulisan tentang ayah kandungnya: Feliks Mar: Opa Pue, Guru dan Penanam
Pohon (2014). Buku ini merupakan biografi ayahnya. Sebuah upaya untuk membangun
fundasi memori bagi semua anak dan turunannya.
Pelayanan di Lembaga Biblika Indonesia (LBI)
Semasa menjadi pengajar Program Studi Pendidikan Teologi di
STKIP St. Paulus, saya mendapat kesempatan untuk menjadi anggota Lembaga
Biblika Indonesia (LBI) dan bergabung di ISBI (Ikatan Sarjana Biblika Indonesia).
Sejujurnya, saya bukanlah sarjana biblika, namun kala itu, semua pengajar
bidang kitab suci diajak untuk bergabung di sana. Ada kegembiraan berjumpa
dengan sesama dosen kitab suci dari seluruh Indonesia, baik dari kalangan
Katolik maupun Kristen Protestan dengan denominasinya.
Setiap dua tahun sekali kami berjumpa untuk membahas tema
tertentu dari kitab suci baik perjanjian lama maupun perjanjian baru. Perjumpaan
dengan tokoh besar kitab suci seperti Dr. Martin Harun OFM, Dr. Berthold Parera
O.Carm, Dr. Pidyarto, O.Carm sangat memperkaya wawasan. Tempat pertemuanpun
berpindah-pindah, mulai dari Wisma Klender Jakarta hingga Tomohon dan Manado di
Sulawesi Utara.
Medium ini merupakan kesempatan emas saya juga bergaul
lintas teologi dengan pengajar kitab suci dari aliran Protestan. Pak Tensi
Mandaru dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sangat membantu perluasan
cakrawala berpikir tentang kitab suci. Bahkan Pak Tensi bersama LAI membangun
proyek penerjemahan kitab suci ke dalam bahasa Manggarai. Saat kami berpindah
ke Jogja, pertemuan dengan Pak Frans dan Pak Tensi tetap dilakukan. Demikian di
Ruteng, hal yang sama kami lakukan.
Menariknya Pak Frans tampil sebagai seorang pemikir bidang
kitab suci yang selalu menyajikan perspektif sederhana. Dari karyanya yang
sering dipublikasi Wacana Bibilika, Mingguan Hidup, Rohani dan buku-bukunya, ia
konsen kepada analisasi naratif teks-teks kitab suci. Hermeneutika yang
dibangunnya juga sering kali mengejutkan dengan gambaran yang sangat detail dan
membawa pembaca ke dalam permenungan tentang hidupnya sendiri.
Demikian ketika berjumpa di LBI, ketika diskusi-diskusi buku
dilangsungkan, ia mengajukan perspektifnya ke ranah konteks dan teks. Teks kitab
suci tidak pernah berdiri sendiri. Ia ada dalam konteks tertentu (kultural, historis,
politis, dll). Upaya perluasan dibangun untuk menemukan makna teks pada dunia dan
kehidupan masyarakat kekinian.
Ketika kami berada di Manado, kami sempatkan diri untuk
mengunjungi Bunaken. Ada banyak refleksi biblis yang muncul dalam perjalanan ke
pulau Bunaken. Perjumpaan yang selalu menginspirasi. Kiranya hingga saat ini,
Pak Frans masih tetap sebagai anggota LBI dan ISBI.
Ucapan Terima Kasih
Tak lama setelah kami berjumpa di Ruteng, kami sering
bertemu di Jogja dari 2013-2015. Pak Frans menyelesaikan studi doktoratnya di
Universitas Gadja Mada (UGM). Di Jogja kami saling mengunjungi. Di sela-sela
kesibukan, kami sempatkan diri untuk beriwisata kuliner. Satu tempat yang
sangat berkesan adalah restoran jejamuran. Bahkan setelah Pak Frans dan keluarga
kembali ke Bandung, kami sekeluarga tetap mengunjungi restoran itu secara
berkala.
Pak Frans tidak lupa akan perjumpaan awal kami ketika ia
melaksanakan riset doktoral di Ruteng. Saya meminjam referensi Manggarai Text
di perpustakaan SVD lalu mengkopinya untuk penyusunan kerangka teoretis
proposal disertasinya. Tak lama kemudian ia datang riset lapangan. Saya menyediakan
kantor saya untuk tempat Pak Frans menulis dan perpustakaan pribadi saya untuk
referensi yang dibutuhkan.
Disertasinya dapat dikerjakan dengan lancar. Pada halaman
prakata, Pak Frans tak lupa mengucapkan terima kasih. Saya kutip paragraf yang
menyebut tentang pengalaman perjumpaan kami:
“Many thanks also offered to
Father Isak Servulus SVD, which at that time served as the Father Provinsial
(Pater Propinsial) of the SVD Province in Ruteng. With the accompaniment of my
brother Kanisius Teobalcl Deki, I came to his office to ask for the special
pennission so that I can use the noble heritage of Pater Jilis Verheij en SVD,
Manggarai Text. At that time, in front of my friend as an eyewitness, he has
given his oral-verbal agreement to me to use them. Many thanks also are given
to Kanis Deki who has helped me to copy those Manggarai Text (17 vol.). There
are also some other resources books on some Manggaraian studies written by
Manggaraian scholars and observers. Kanis also provide and open his own house
in Ruteng so that I can use it to have a time for reflection in which I can
write clown and develop all the data that I have collected in Perang.”
Saban pagi, saya sering mendapatkan kesempatan untuk
berkomunikasi dengan Pak Frans melalui berbagai media, termasuk Facebook. Kadang
ada kelucuan yang dibuatnya melalui postingan video, ketika ia memetik gitar
dan bernyanyi. Atau kisah lucu lainnya ketika belajar di negeri Belanda.
Perjumpaan dengan Pak Frans memiliki banyak pengaruh
positif. Ada dua kesempatan Pak Frans ikut menulis artikel pada buku yang saya
tulis dan jurnal yang saya kelola. Pertama nian, buku Membangun Kerajaan
Allah-Membentuk Komunitas Kasih (AsdaMedia, 2021): Katedral Ruteng Jalan
Membangun Harga Diri. Kedua, artikel pada Jurnal Missio: Salib, Dari Scandalum
ke Pujian Hingga Revolusi (STKIP St. Paulus, 2014). Banyak diskusi personal menarik
dan kedekatan bathin ketika menjumpai peristiwa dan pengalaman fundamental.
Hari ini, Senin, 29 Desember, cuaca Ruteng mendung dan hujan
rintik-rintik turun. Ada kedukaan yang mendalam kehilangan seorang sahabat dan
sekaligus kakak. Sebuah perubahan eksistensial kenyataan, dari kehidupan di
dunia fana ini kepada kehidupan kekal yang bahagia, sebagaimana terungkap dalam
keyakinan imannya. Ucapan terima kasih layak kami sampaikan untuk segala
kebaikan, kasih dan cinta yang telah kami terima dalam kebersamaan. Terutama motivasi
yang selalu Pak Frans berikan kepada saya dalam karya sebagai penulis, pengurus
lembaga keuangan mikro Kopkardios dan sebagai akademisi.
Kami sekeluarga mengucapkan turut berdukacita mendalam buat
Ibu Celestina Maria Supriatin Pepe, dan keponakan kami, Johanni Baptista A. M.,
dan Gregorius Agung K. D. Semoga Pak Frans menjadi pendoa yang selalu menyertai
perjuangan hidup kita di dunia ini. Amin!***
[1] P.
Jillis Verheijen SVD adalah seorang misionaris Katolik asal Belanda yang sangat
berkontribusi dalam mempelajari dan melestarikan budaya Manggarai, Flores, NTT.
Beliau lahir pada 26 Maret 1908 dan meninggal pada 25 April 1997, menghabiskan
58 tahun hidupnya di Manggarai (1935-1993). Verheijen memiliki keahlian di
bidang linguistik, antropologi, dan sejarah Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
Beliau mempelajari bahasa Manggarai, mengumpulkan dongeng-dongeng, mitos, dan
teka-teki, serta menulis tentang budaya dan kepercayaan masyarakat Manggarai.
Beberapa karya terkenal Verheijen antara lain: 1) Manggarai
dan Wujud Tertinggi, yang membahas konsep ketuhanan orang Manggarai; 2) Dongeng-Dongeng
Manggarai, kumpulan cerita rakyat Manggarai; 3) Pulau Komodo, tanah, rakyat,
dan Bahasanya, yang membahas tentang suku Komodo dan bahasa mereka
Verheijen dianggap sebagai salah satu
"raksasa" misionaris SVD yang sangat berjasa bagi Manggarai dan
Komodo.



Komentar
Posting Komentar