In Memoriam Dr. Fransiskus Borgias: Penulis Produktif, Pemikir yang Kontekstual

Oleh Kanisius Teobaldus Deki

Foto: Pak Frans pribadi yang ceria. Ia ternyata menyimpan sakit yang menderanya. Banyak sahabat terkejut ketika ia meninggal (dokpri FB Pak FRans).

Tulisannya banyak mucul di beberapa jurnal ilmiah, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Temanya beragam, dari sastra, teologi kontekstual, filsafat, politik, budaya hingga kitab suci. Ia meramu tulisannya dengan ungkapan yang sederhana, konsep berpikir yang disiplin dan rumusan yang mudah dipahami. Google Scholar memberi kita banyak informasi tentang jumlah publikasinya, baik artikel maupun buku. Jika kita skrol kursor, kita akan menjumpai 247 karyanya yang mengagumkan!

Pada suatu waktu di tahun 2013 saya mendapatkan messenger baru di handphone blacberry. Isinya permintaan untuk membantu menemukan beberapa literatur terkait budaya Manggarai. Secara khusus saya diminta untuk mengumpulkan koleksi karya P. Jillis Verheijen SVD, seorang misionaris dan antropolog asal Belanda yang sangat besar perhatiannya terhadap khazanah budaya Manggarai.[1] Literatur dimaksud akan dipakai untuk disertasinya. Saya mencatat namanya: Frans Borgias di nomor kontak saya.

Pagi ini saya sementara tertidur ketika handphone berdering. Ada panggilan masuk. Suara di seberang terisak dalam tangisan. “Kaka Frans sudah tiada”, suaranya terbata-bata. Sontak ada perasaan sedih. Hari Rabu lalu, tanggal 24 Desember 2025, saya mengirim pesan di Whatsapp, namun tak dibalas. Waktu itu saya mengetahui kalau Pak Frans sedang dirawat di rumah sakit. Rupanya sakit yang dideritanya tak jua berakhir. Sampai ia menghembuskan nafas terakhir hari ini.

Tulisan ini lebih merupakan serpihan-serpihan kenangan bersama kami. Ingatan akan keseharian dalam kebiasaan selalu berkontak untuk bercerita tentang situasi aktual gereja atau sekedar bertutur tentang lelucon masa lampau yang tetap membekas. Sebuah persembahan penghormatan untuk segala karya dan persahabatan kami.

Foto: Sidang Terbuka Program S3 di ICRS UGM


Penulis yang Produktif: 247 karya!

Sebenarnya nama ini sudah lama akrab di telinga. Saya menjumpainya melalui karya tulisnya yang tersebar di begitu banyak media, termasuk publikasi bukunya yang terbilang banyak. Ia penulis yang sangat produktif. Ia menulis artikel, cerita pendek dan puisi, buku hingga menerjemahkan karya-karya dari penulis besar. Ia tak hanya menulis buku tunggal, tetapi juga editor untuk berbagai buku dan termasuk reviewer untuk beberapa jurnal ilmiah di tanah air.

Tulisannya banyak mucul di beberapa jurnal ilmiah, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Temanya beragam, dari sastra, teologi kontekstual, filsafat, politik, budaya hingga kitab suci. Ia meramu tulisannya dengan ungkapan yang sederhana, konsep berpikir yang disiplin dan rumusan yang mudah dipahami. Google Scholar memberi kita banyak informasi tentang jumlah publikasinya, baik artikel maupun buku. Jika kita skrol kursor, kita akan menjumpai 247 karyanya yang mengagumkan.

Beberapa buku karya Frans Borgias pada bidang kitab suci antara lain: Sejarah Alkitab (terj. Karya Karen Amstrong, 2013), Saat-saat Terakhir Hidup Yesus Menurut Yohanes (FideiPress, 2013), Gambar Tanpa Wajah (Obor, 2024), Menilik Kohesitas 12 Nabi-Nabi Kecil (Wacana Biblika, 2023), Orang Samaria Yang Baik Hati-Teladan Berjejaring (Komunikasi, 2023), Sastra Hikmat Kebijaksanaan Israel: Relevansi teologisnya dari perspektif kristiani (Wacana Biblika, 2022), Tafsir Kitab Suci (Mingguan Hidup, ), Injil Lukas Penuntun Studi (1996), Pengalaman Akan Allah (1996), Spiritualitas Iman Ayub (2005) dan masih banyak yang bisa dideretkan.

Pada bidang teologi kontekstual, liturgi dan budaya Manggarai tercatat karyanya antara lain: Teologi Pembebasan Amerika Latin (Busos, 1986), Altar Compang (Fajar Liturgi, 1990), Jalan Salib Jalan Keadilan-Leonardo Boff (Kanisius, 1991), Merenungkan Kontinuitas Historis Kekristenan (Melintas, 1994), Menelusuri Khazanah Feminisme Dalam Persepktif Katolik (Melintas, 1994), And God Saw That It Was Good: Positive View of Indigenous-Primal Wisdom (Melintas, 2004), Terobosan Baru Berteologi-Butir-butir Refleksi Pastor Yan Sunyata OSC (Lamalera, 2009), masih bisa ditambahkan lagi karya di bidang ini.

Bidang sastra dan filsafat memunculkan beberapa judul berikut: Kidung Sang Surya dan Nilai Ciptaan (Rohani, 1987), Menelusuri Mistik Musyawarah Burung (Basis, 1987), Ajaran Sosial Gereja: Perubahan Dalam Pendekatan Sosial (Busos, 1990), Filsafat Kahlil Gibran Upaya Memaknai dan Mamahami Sang Nabi (Intrashing Publishing, 2022), Filsafat Sosial dan Filsafat Pendidikan Manggarai. Belajar dari ‘Socrates’ Golo Momol P. Florian Laot, OFM (Obor, 2012), Manggaraian Idea of ‘Moral Self’: Study of Manggaraian Traditional Texts (Melintas, 2020), Dante Aleghieri: Cinta, Ziarah, Teologi Tubuh, Persatuan Cinta Misyikal (Hidup, 2025), Cerpen Kuabadi Dalam Nuranimu (Komunikasi, 2024), Sastra Hikmat Kebijaksanaan Israel: Relevansi Teologisnya dari Perspektif Kristiani (Wacana Biblika, 2022), Filsafat Katolik (Komunikasi, 2019), Puisi-Puisi Frans Borgias: Stigmata (2011), serta begitu banyak karya yang patut diinput.

Bidang budaya Manggarai tercatat beberapa karya: Nama Orang Manggarai 1-2 (Basis, 1991), Memahami Manusia Manggarai Lewat Mitos dan Antropologi (Kearifan Lokal, 2019), Ikut berkontribusi dalam menyusun 10 jilid Ensiklopedia Manggarai (Institute Manggarai, 2025), Manggaraian Myths, Rituals and Christianity: Doing Contextual Theology in Eastern Indonesia (UGM, 2016), Asal Usul Manusia Manggarai (Kreba Dia, 2024), serta masih banyak karya yang wajib dimasukkan.

Selain karya publikasi bidang-bidang yang telah disebutkan di atas, Pak Frans juga menaruh perhatian pada tokoh gereja dari kelompok fransiskan, paus, para uskup dan para imam atau kaum religius yang berjalasa: Juragan Visioner, Prof Dr N.J.C. Geise OFM (Kanisius, 2006), Catatan Harian Seorang Pastor Desa: Dialog Imajiner Dengan P. Flori Laot, OFM (2013), Sr. Virgula Scgmitt SSpS: Sebuah Ziarah Pembebasan (2016), Tantangan Modern Fransiskan (2017), Mengenang Pater Servulus Isaak SVD Lewat Upaya Mendalami dan Memahami Motto Tahbisannya (Unika St. Paulus, 2021), Paus Yohanes Paulus II: Antara Peluru dan Saudari Maut (Sinar Harapan, 2005), Devosi Santo Antonius dan Renungan Masa Kini (Pustaka Nusatama, 2005), Krisis Hidup Santo Fransiskus Asisi (2005), Makna Teologis-Soteriologis Motto Episkopalis Yang Mulia Uskup Maksimus Regus (2024), Pengenalan Akan Mgr. Hilarion Datus Lega. Dari Teologi Bola Kaki ke Teologi Mengenal Nama (2024) dan masih banyak karya yang dapat ditambahkan.

Pak Frans menaruh perhatian juga pada pembacaan atas karya-karya yang penting dan membuat resensi buku. Tentu ini merupakan kebajikan seorang penulis yang tak boleh diabaikan. Membuat resensi buku merupakan sebuah cara memberikan apresiasi atas karya dari para pemikir dan penulis dalam bidang keahliannya.

Kecintaannya terhadap dunia tulis menulis, membawa dirinya kepada penulisan tentang ayah kandungnya: Feliks Mar: Opa Pue, Guru dan Penanam Pohon (2014). Buku ini merupakan biografi ayahnya. Sebuah upaya untuk membangun fundasi memori bagi semua anak dan turunannya.

Pelayanan di Lembaga Biblika Indonesia (LBI)

Semasa menjadi pengajar Program Studi Pendidikan Teologi di STKIP St. Paulus, saya mendapat kesempatan untuk menjadi anggota Lembaga Biblika Indonesia (LBI) dan bergabung di ISBI (Ikatan Sarjana Biblika Indonesia). Sejujurnya, saya bukanlah sarjana biblika, namun kala itu, semua pengajar bidang kitab suci diajak untuk bergabung di sana. Ada kegembiraan berjumpa dengan sesama dosen kitab suci dari seluruh Indonesia, baik dari kalangan Katolik maupun Kristen Protestan dengan denominasinya.

Setiap dua tahun sekali kami berjumpa untuk membahas tema tertentu dari kitab suci baik perjanjian lama maupun perjanjian baru. Perjumpaan dengan tokoh besar kitab suci seperti Dr. Martin Harun OFM, Dr. Berthold Parera O.Carm, Dr. Pidyarto, O.Carm sangat memperkaya wawasan. Tempat pertemuanpun berpindah-pindah, mulai dari Wisma Klender Jakarta hingga Tomohon dan Manado di Sulawesi Utara.

Medium ini merupakan kesempatan emas saya juga bergaul lintas teologi dengan pengajar kitab suci dari aliran Protestan. Pak Tensi Mandaru dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sangat membantu perluasan cakrawala berpikir tentang kitab suci. Bahkan Pak Tensi bersama LAI membangun proyek penerjemahan kitab suci ke dalam bahasa Manggarai. Saat kami berpindah ke Jogja, pertemuan dengan Pak Frans dan Pak Tensi tetap dilakukan. Demikian di Ruteng, hal yang sama kami lakukan.

Menariknya Pak Frans tampil sebagai seorang pemikir bidang kitab suci yang selalu menyajikan perspektif sederhana. Dari karyanya yang sering dipublikasi Wacana Bibilika, Mingguan Hidup, Rohani dan buku-bukunya, ia konsen kepada analisasi naratif teks-teks kitab suci. Hermeneutika yang dibangunnya juga sering kali mengejutkan dengan gambaran yang sangat detail dan membawa pembaca ke dalam permenungan tentang hidupnya sendiri.

Demikian ketika berjumpa di LBI, ketika diskusi-diskusi buku dilangsungkan, ia mengajukan perspektifnya ke ranah konteks dan teks. Teks kitab suci tidak pernah berdiri sendiri. Ia ada dalam konteks tertentu (kultural, historis, politis, dll). Upaya perluasan dibangun untuk menemukan makna teks pada dunia dan kehidupan masyarakat kekinian.

Ketika kami berada di Manado, kami sempatkan diri untuk mengunjungi Bunaken. Ada banyak refleksi biblis yang muncul dalam perjalanan ke pulau Bunaken. Perjumpaan yang selalu menginspirasi. Kiranya hingga saat ini, Pak Frans masih tetap sebagai anggota LBI dan ISBI.

 

Foto: Agung, Ibu Celestin, Pak Frans dan Joan (FB Pak Frans)

Ucapan Terima Kasih

Tak lama setelah kami berjumpa di Ruteng, kami sering bertemu di Jogja dari 2013-2015. Pak Frans menyelesaikan studi doktoratnya di Universitas Gadja Mada (UGM). Di Jogja kami saling mengunjungi. Di sela-sela kesibukan, kami sempatkan diri untuk beriwisata kuliner. Satu tempat yang sangat berkesan adalah restoran jejamuran. Bahkan setelah Pak Frans dan keluarga kembali ke Bandung, kami sekeluarga tetap mengunjungi restoran itu secara berkala.

Pak Frans tidak lupa akan perjumpaan awal kami ketika ia melaksanakan riset doktoral di Ruteng. Saya meminjam referensi Manggarai Text di perpustakaan SVD lalu mengkopinya untuk penyusunan kerangka teoretis proposal disertasinya. Tak lama kemudian ia datang riset lapangan. Saya menyediakan kantor saya untuk tempat Pak Frans menulis dan perpustakaan pribadi saya untuk referensi yang dibutuhkan.

Disertasinya dapat dikerjakan dengan lancar. Pada halaman prakata, Pak Frans tak lupa mengucapkan terima kasih. Saya kutip paragraf yang menyebut tentang pengalaman perjumpaan kami:

“Many thanks also offered to Father Isak Servulus SVD, which at that time served as the Father Provinsial (Pater Propinsial) of the SVD Province in Ruteng. With the accompaniment of my brother Kanisius Teobalcl Deki, I came to his office to ask for the special pennission so that I can use the noble heritage of Pater Jilis Verheij en SVD, Manggarai Text. At that time, in front of my friend as an eyewitness, he has given his oral-verbal agreement to me to use them. Many thanks also are given to Kanis Deki who has helped me to copy those Manggarai Text (17 vol.). There are also some other resources books on some Manggaraian studies written by Manggaraian scholars and observers. Kanis also provide and open his own house in Ruteng so that I can use it to have a time for reflection in which I can write clown and develop all the data that I have collected in Perang.”

Saban pagi, saya sering mendapatkan kesempatan untuk berkomunikasi dengan Pak Frans melalui berbagai media, termasuk Facebook. Kadang ada kelucuan yang dibuatnya melalui postingan video, ketika ia memetik gitar dan bernyanyi. Atau kisah lucu lainnya ketika belajar di negeri Belanda.

Perjumpaan dengan Pak Frans memiliki banyak pengaruh positif. Ada dua kesempatan Pak Frans ikut menulis artikel pada buku yang saya tulis dan jurnal yang saya kelola. Pertama nian, buku Membangun Kerajaan Allah-Membentuk Komunitas Kasih (AsdaMedia, 2021): Katedral Ruteng Jalan Membangun Harga Diri. Kedua, artikel pada Jurnal Missio: Salib, Dari Scandalum ke Pujian Hingga Revolusi (STKIP St. Paulus, 2014). Banyak diskusi personal menarik dan kedekatan bathin ketika menjumpai peristiwa dan pengalaman fundamental.

Hari ini, Senin, 29 Desember, cuaca Ruteng mendung dan hujan rintik-rintik turun. Ada kedukaan yang mendalam kehilangan seorang sahabat dan sekaligus kakak. Sebuah perubahan eksistensial kenyataan, dari kehidupan di dunia fana ini kepada kehidupan kekal yang bahagia, sebagaimana terungkap dalam keyakinan imannya. Ucapan terima kasih layak kami sampaikan untuk segala kebaikan, kasih dan cinta yang telah kami terima dalam kebersamaan. Terutama motivasi yang selalu Pak Frans berikan kepada saya dalam karya sebagai penulis, pengurus lembaga keuangan mikro Kopkardios dan sebagai akademisi.

Kami sekeluarga mengucapkan turut berdukacita mendalam buat Ibu Celestina Maria Supriatin Pepe, dan keponakan kami, Johanni Baptista A. M., dan Gregorius Agung K. D. Semoga Pak Frans menjadi pendoa yang selalu menyertai perjuangan hidup kita di dunia ini. Amin!***



[1] P. Jillis Verheijen SVD adalah seorang misionaris Katolik asal Belanda yang sangat berkontribusi dalam mempelajari dan melestarikan budaya Manggarai, Flores, NTT. Beliau lahir pada 26 Maret 1908 dan meninggal pada 25 April 1997, menghabiskan 58 tahun hidupnya di Manggarai (1935-1993). Verheijen memiliki keahlian di bidang linguistik, antropologi, dan sejarah Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Beliau mempelajari bahasa Manggarai, mengumpulkan dongeng-dongeng, mitos, dan teka-teki, serta menulis tentang budaya dan kepercayaan masyarakat Manggarai.

Beberapa karya terkenal Verheijen antara lain: 1) Manggarai dan Wujud Tertinggi, yang membahas konsep ketuhanan orang Manggarai; 2) Dongeng-Dongeng Manggarai, kumpulan cerita rakyat Manggarai; 3) Pulau Komodo, tanah, rakyat, dan Bahasanya, yang membahas tentang suku Komodo dan bahasa mereka

Verheijen dianggap sebagai salah satu "raksasa" misionaris SVD yang sangat berjasa bagi Manggarai dan Komodo.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Pius Tengko, Selamat Jalan!

SURVEY KEPUASAN PENGUNJUNG DESTINASI WISATA ALAM TUJUH BELAS PULAU RIUNG TAHUN 2025