Guru Pius Tengko, Selamat Jalan!

Oleh Kanisius Teobald Deki


Foto: Guru Pius Tengko (sumber: facebook.com)

Subuh menyapa, lonceng gereja berdentang memanggil ibadah, misa pagi. Saya membuka mata, ingin menengok jam pada HP. News feed pada HP pada WAG keluarga memberi info, Guru Pius Tengko telah meninggal dunia. Saya tidak terkejut. Sudah lama guru kami itu menderita sakit. Sulit beranjak dari tempat tidur. Akhirnya, beliau dipanggil pulang ke rumah bahagia, surga. Sejenak muncul secara otomatis kenangan bersama beliau di masa-masa yang lalu.

Artikel kecil ini merupakan sebuah tapak-tapak memori yang pernah mencatat perjalanan bersama kami. Tentu sudah pasti, fragmen-fragmen kecil yang berkesan.

Motivator Ulung

Guru Pius adalah salah satu tokoh penting dari barisan guru awali di SMPK St. Stanislaus Borong, sekolah bentukkan Paroki St. Gregorius Borong. Bersama Sr. Redempta OSU, Guru Jack Jawong, Guru Yasinta Tombor (alm.), Guru Editha Saka, Guru Hery Pamso memulai sekolah ini dengan murid berwajah serba baru. Mengapa begitu? Tahun 1989 sekolah ini baru dibuka untuk pertama kalinya. Nama St. Stanislaus diambil dari Pastor Paroki sebelumnya, P. Stanis Wyparlo SVD, misionaris asal Polandia. Gedung sekolah memakai gedung pertama SMAK Pancasila yang sudah tidak digunakan lagi. Pak Kristo dan Pak Bene staf administrasi pertama yang ikut bekerja dari awal.

Dalam situasi yang serba baru itulah, banyak hal yang menjadi pembelajaran bersama. Budaya organisasi sekolah mulai dibangun. Semua sedang mencari bentuk pendidikan yang sesuai. Guru Pius menduduki posisi sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Di kelas ia mengajar bidang studi geografi. Suaranya menggelegar dan kewibawaannya terlihat kuat. Salah satu aspek yang paling kentara dari Guru Pius adalah selalu memotivasi siswa.

Pernah beliau menyampaikan kepada saya bahwa aktivitas yang bisa menghasilkan uang adalah menanam sayur lalu menjualnya. Masa akhir 1980-an dan awal tahun 1990-an, Borong termasuk wilayah yang memiliki tanah yang subur dan hasil padi yang diandalkan untuk Manggarai, selain Pota, Lembor dan Iteng. Namun hasil padi yang melimpah tak seiring dengan peredaran uang di tengah masyarakat. Daya beli rendah. Wajah uang sangat jarang menampakkan diri di keluarga-keluarga. Karena itu aktivitas menjual diganti dengan barter. Beras dan ubi petani dibarter dengan ikan nelayan. Namun Guru Pius tetap menyampaikan bahwa menanam sayur penting sekaligus membuka ruang usaha baru. Hal ini memang beralasan. Pengalaman Guru Pius saat tinggal di Lawir-Ruteng ketika masa sekolah memang menolong dirinya membiayai pendidikan sekaligus membantu orang tuanya dari kampung Ting.

Motivasi Guru Pius sangat membekas ketika kami (saya, Rony Koting dan Cely Ganar) mengikuti Lomba Cerdas Cermat Tingkat SMP se-kecamatan Borong dan Kota Komba. Kami berhasil menang secara berturu-turut dua kali, saat masih kelas II SMP dan kelas III SMP. Dua kali juga kami mewakili dua kecamatan itu ikut berlomba di Ruteng. Guru Pius menjadi pendamping kami ke Ruteng. Dulu, waktu tempuh Borong-Ruteng sangat lama. Kami nginap di Lawir, rumah keluarga Guru Pius. “Jangan pernah takut dan gugup menghadapi tim dari Kota Ruteng”, begitu kata beliau membesarkan hati kami.

Dua kali ikut lomba di tingkat kabupaten, kami tetap masuk final dan bertarung dengan anak-anak SMPK Immaculata. Dua kali itu juga kami hanya membawa trophy Juara II (runner up). Impian untuk masuk ibu kota provinsi pupuslah sudah. “Tidak apalah, kalian sudah tunjukkan yang terbaik bagi sekolah kita. Kami tetap bangga”, begitu ujar Guru Pius menenangkan hati kami dari kekecewaan yang membubung.

Perjumpaan yang Tak Disengaja

Pada waktu SMPK St. Stanislaus merayakan Usia Perak, 25 tahun, saya didaulat untuk menjadi salah satu pembicara saat seminar digelar memperingati kelahiran almamater. Sebagai alumni tentu saya bangga bahwa saya mendapat kesempatan indah dan momental semacam itu. Saat turun dari podium, selesai seminar, Guru Pius mendekati saya dan menyampaikan ucapan terima kasih. Ada perasaan haru saat guru kita mengucapkan terima kasih. Saya menyapa beliau dan berkata, “Justru saya yang seharusnya berterima kasih untuk segala kebaikan dan dedikasi dari para guru dan pegawai di sekolah kita”.

Saya mendengar bahwa beliau kemudian mengikuti tes PNS untuk menjadi guru negeri. Beliau dipercayakan sampai menjadi kepala sekolah di beberapa tempat. Setelah sekian lama tak bersua, pada suatu waktu saya mengontaki Mama Yovan, demikian kami menyapa istri Guru Pius. “Saya melihat bahwa rumah yang di Wae Reca kosong, apakah kantor kami boleh mengontraknya?”, tanya saya kala itu. Mama Yovan menyediakan waktu untuk bertemu dan membicarakan kontrakan itu. Sebagai Ketua Kopkardios, saya sungguh berbahagia menyambangi rumah Guru Pius.

Kebahagiaan itu datang dari dua hal. Pertama nian, saya mendapat kesempatan untuk berjumpa dan melihat dari dekat kondisi beliau. Beliau memang sedang kurang sehat. “Saya senang mendapat kunjungan ini”, kata beliau singkat. Kedua, setidaknya ada rasa bangga bahwa salah seorang muridnya bisa melayani banyak orang melalui lembaga keuangan mikro dan kini mengontraki rumahnya. “Saya senang kita bisa bertemu lagi”, kata beliau ketika sudah deal harga kontrak kantor.

Sayangnya saat peresmian Kantor Cabang Kopkardios di Borong, Manggarai Timur beliau tak sempat hadir. Namun kehadiran rumah beliau di Borong mengawali kontruksi Kopkardios sebagai lembaga keuangan mikro yang tengah naik daun untuk berkiprah di jantung Manggarai Timur (Matim) dan menjalin koneksi dengan kecamatan, desa dan kampung di seantero jagat Matim ini.

Hari ini, saat mata Guru Pius tertutup dan tangannya mengatup memegang Rosario, ucapan terima layak disampaikan untuk segala kebaikan beliau. Salam dukacita kami untuk Mama Yovan, Yovan dan adek-adek. Guru Pius sudah bahagia dalam kerajaan surga dan menjadi pendoa setia bagi kita semua.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

In Memoriam Dr. Fransiskus Borgias: Penulis Produktif, Pemikir yang Kontekstual

SURVEY KEPUASAN PENGUNJUNG DESTINASI WISATA ALAM TUJUH BELAS PULAU RIUNG TAHUN 2025